Minggu, 25 Desember 2011

Tugas kuliah (harmadi-derasid.blogspot.com)

PENGELOLAAN, PENGEMBANGAN DAN

PEMANFAATAN SUMBER-SUMBER BELAJAR DI SEKOLAH

DALAM UPAYA PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN

Oleh : Harmadi

1. Pendahuluan

a. Latar Belakang

Proses belajar dalam pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Melalui proses belajar dapat memberi pengaruh terhadap perkembangan kemampuan akademis dan psikologis setiap manusia dalam hidupnya. Belajar merupakan proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Belajar juga merupakan kegiatan yang melibatkan seseorang dalam upaya memperoleh pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai positif dengan memanfaatkan berbagai sumber untuk belajar. Pembelajaran dapat melibatkan dua pihak yaitu siswa sebagai pembelajar dan guru sebagai fasilitator. Konsep teknologi pendidikan menekankan kepada individu yang belajar melalui pemanfaatan dan penggunaan berbagai jenis sumber belajar.

Dengan semakin cepatnya arus globalisasi, dunia pendidikan sekarang ini menghadapi berbagai tantangan. Dunia pendidikan dituntut agar dapat mendorong dan mengupayakan peningkatan kemampuan dasar untuk menjadi individu yang unggul dan memiliki daya saing kuat secara cepat. Sementara pandangan masyarakat pada umumnya mengenai pendidikan bersifat konvensional yaitu mengkaitkan penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran yang terjadi hanya berlangsung di dalam kelas, di mana sejumlah murid atau peserta belajar secara bersama-sama memperoleh pelajaran dari seorang guru atau instruktur.

Adanya isu sentral rendahnya mutu atau kualitas dan relevansi pendidikan membuat lembaga pendidikan seperti sekolah dituntut untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten. Selain itu otonomi daerah juga membawa perubahan-perubahan serta penyesuaian pendidikan demokratis, yang sangat memperhatikan keragaman kebutuhan daerah dan siswa itu sendiri.

Timbulnya berbagai tuntutan tersebut membawa konsekwensi pada perubahan paradigma dalam belajar mengajar menjadi pembelajaran. Strategi dan pendekatan pembelajaran tidak lagi bertumpu pada guru tetapi berorientasi pada siswa sebagai subyek (student centered). Guru bukan lagi satu-satunya sumber belajar bagi siswa. Tanpa guru, pembelajaran tetap dapat dilaksanakan karena adanya sumber belajar yang lain. Sehubungan hal tersebut para pendidik atau guru di sekolah diharapkan untuk dapat menggunakan sumber belajar secara tepat.

Sehubungan dengan penggunaan sumber belajar tersebut maka sudah seharusnya siswa dan guru memanfaatkan semaksimal mungkin sumber-sumber belajar yang ada di sekolah tersebut. Berdasarkan pengalaman selama penulis menjadi guru, baik di sekolah tempat penulis bertugas maupun di sekolah-sekolah lain, tanpak keengganan guru memanfaatkan sumber-sumber belajar yang ada, ditambah lagi dengan manajemen kepala sekolah yang tidak menyentuh ke pernaikan kualitas pemnbelajaran. Padahal cukup banyak sumber-sumber belajar yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran, sehingga sumber belajar tidak hanya bertumpu pada satu jenis saja tetapi beraneka sumber atau beraneka jenis. Dengan pemanfaatan sumber-sumber belajar yang ada di sekolah diharapkan akan menjadikan pembelajaran lebih berkualitas dalam arti adanya variasi metode dan model pembelajaran di samping diharapkan pula dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.

b. Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka yang menjadi masalah adalah apa sajakah sumber-sumber belajar yang ada sekolah dan bagaimanakah mengelola, mengembangkan dan memanfaatkannya?

c. Tujuan dan Manfaat

Tujuan tulisan ini adalah untuk mengetahui sumber-sumber belajar yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran serta untuk mengetahui cara mengelola, mengembangkan dan memanfaatkannya.

Manfaat tulisan ini bagi penulis dan pembaca adalah sebagai pembuka wawasan tentang sumber-sumber belajar yang ada di sekolah yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran. Manfaat bagi bidang keilmuan teknologi pendidikan adalah sebagai penambah wacana tentang sumber-sumber belajar yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran di sekolah.

2. Pembahasan

a. Proses dan Kualitas Pembelajaran

Istilah kegiatan “belajar”, “mengajar”, dan “pembelajaran” merupakan istilah kegiatan yang tidak terpisahkan, meskipun ketiganya merupakan kegiatan yang berbeda. Kegiatan belajar bisa saja terjadi walaupun tidak ada kegiatan mengajar. Begitu pula sebaliknya, kegiatan mengajar tidak selalu dapat menghasilkan kegiatan belajar. Ketika seorang guru menjelaskan pelajaran di depan kelas maka terjadi kegiatan mengajar, tetapi dalam kegiatan tersebut belum tentu terjadi kegiatan belajar pada setiap siswa. Kegiatan mengajar dikatakan berhasil jika dapat menghasilkan kegiatan belajar pada diri siswa. Jadi, sebenarnya hakekat guru mengajar adalah usaha guru untuk membuat siswa belajar. Dengan kata lain, mengajar merupakan upaya menciptakan kondisi agar terjadi kegiatan belajar. Kegiatan inilah yang disebut dengan peoses pembelajaran.

Istilah pembelajaran lebih menggambarkan usaha guru untuk membuat belajar para siswanya. Kegiatan pembelajaran tidak akan berarti jika tidak menghasilkan kegiatan belajar pada para siswa. Kegiatan belajar hanya bisa berhasil jika si pembelajar secara aktif mengalami sendiri proses belajar. Jadi syarat mutlak yang harus dipenuhi agar terjadi kegiatan belajar yaitu terjadinya interaksi antara pembelajar (learner) dengan sumber belajar.

Pekerjaan mengajar tidak selalu harus diartikan sebagai kegiatan menyajikan materi pelajaran. Meskipun menyajikan materi pelajaran memang merupakan bagian dari kegiatan mengajar, tetapi bukanlah satu-satunya. Masih banyak cara lain yang dapat dilakukan guru untuk membuat siswa belajar. Peran penting yang harus dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran adalah mengusahakan agar setiap siswa dapat berinteraksi secara aktif dengan berbagai sumber belajar yang ada.

Inilah yang dimaksud dengan kualitas pembelajaran, yaitu suatu keadaan pembelajaran yang terjadi dengan menjadikan siswa dapat mengalami belajar. Dapat pula dikatakan bahwa suatu pembelajaran yang berkulaitas adalah suatu pembelajaran yang didalamnya terdapat siswa yang mengalami belajar atau siswa dapat berinteraksi dengan sumber belajar.Meskipun guru juga merupakan salah satu sumber belajar bagi siswa, tetapi masih banyak lagi sumber-sumber belajar yang lain yang dapat dimanfaatkan untuk terjadinya proses pembelajaran.

b. Pengertian dan Macam Macam Sumber Belajar di Sekolah

Beberapa pengertian sumber belajar yang dikemukakan para ahli akan diketengahkan seperti berikut ini. AECT (Association for Educational Communication and Technology) (1977) dalam Sadiman (1989:141) mengemukakan bahwa sumber belajar adalah berbagai atau semua sumber baik yang berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh siswa dalam belajar baik secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah siswa dalam mencapai tujuan belajarnya. Pengertian lain dikemukakan oleh Sanjaya (2008:228) bahwa sumber belajar adalah segala sesuatu yang ada di sekitar lingkungan kegiatan belajar yang secara fungsional dapat digunakan untuk membantu optimalisasi hasil belajar. Dari dua pendapat di atas maka sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan belajar guna tercapainya tujuan belajar. Dapat juga dikatakan bahwa sumber belajar adalah semua sumber (baik berupa data, orang atau benda) yang dapat digunakan untuk memberi fasilitas (kemudahan) belajar bagi siswa. Sumber belajar ini bermanfaat dalam memberikan sumbangan yang positif untuk peningkatan mutu pendidikan dan pembelajaran.

Seperti dikemukakan oleh AECT di atas ada enam jenis sumber belajar yaitu pesan, orang, bahan, alat, teknik, dan latar. Pesan (message) merupakan sumber belajar yang berupa ide, ajaran, fakta, makna, nilai dan data baik yang dikeluarkan oleh lembaga resmi seperti pemerintah maupun oleh masyarakat.. Sebagai contohnya adalah kurikulum, cerita rakyat, ceramah, prasasti, kitab kuno dan sebagainya.

Orang (people)merupakan sumber belajar, baik orang yang dipersiapkan untuk terjun dalam kegiatan pembelajaran, maupun orang yang tidak disiapkan untuk pembelajaran. Orang yang disiapkan untuk pembelajaran seperti guru, dosen, widyaiswara, instruktur dan sebagainya. Sedangkan orang yang tidak disiapkan untuk pembelajaran tetapi dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran dapat berupa pejabat, tokoh masyarakat, tokoh agama, orang ahli atau profesi dan sebagainya, contohnya kepala puskesmas, dokter, polisi, kepala desa, pengurus masjid, penghulu nikah, pedagang, petani dan sebagainya.

Bahan (materials) merupakan suatu benda yang berisi pesan atau informasi pembelajaran seperti buku, modul, majalah, koran, slide, film, OHT (Overhead Tranparancy), media grafis, CD (Compact Disk), dan sebagainya. Bahan ini dapat juga disebut perangkat lunak atau software

Alat (device) adalah alat yang digunakan untuk menyampaikan pesan seperti OHP (Overhead Projector), slide projector, film projector, LCD (Liquid Crystal Display), radio, televisi, tape recorder, kaset, dan sebagainya.

Teknik (Technique) merupakan sumber belajar berupa teknik atau cara penyampaian dalam pembelajaran agar tercapainya tujuan pembelajaran. Teknik meliputi pendekatan pembelajaran, model pembelajaran, metode pembelajaran dan sebagainya. Metode pembelajaran seperti ceramah, diskusi, kerja kelompok dan sebagainya. Model pembelajaran dapat berupa kooperatif , individu dan sebagainya, sedangkan pendekatan pembelajaran seperti pembelajaran kontekstual, inkuiri, keterampilan proses dan sebagainya. Sedangkan latar (setting) merupakan sumber belajar berupa lingkungan seperti perpustakaan, laboratorium, kebun sekolah, dan sebagainya.

Selain itu berdasarkan cara pengelolaannya sumber belajar dapat dibedakan dalam dua macam yaitu sumber belajar yang dirancang (Learning Resource by design) dan sumber belajar yang dimanfaatkan (Learning Resource by utilization)(Sadiman dan kawan-kawan, 1989:142)

Berdasarkan pengertian di atas maka sumber-sumber belajar yang terdapat di sekolah adalah sebagai berikut.

Pesan, seperti: kurikulum, pembinaan pada upacara bendera dan sebagainya.

Orang, seperti: guru mata pelajaran, guru bimbingan dan konseling, petugas tata usaha, penjaga kantin sekolah dan sebagainya

Bahan, seperti : buku, modul, majalah, koran, slide, film, OHT (Overhead Tranparancy), media grafis, CD (Compact Disk), peta, atlas, globe, matematika kit, bahasa kit, dan sebagainya.

Alat, seperti : OHP (Overhead Projector), slide projector, film projector, LCD (Liquid Crystal Display), radio, televisi, tape recorder, kaset, dan sebagainya.

Teknik, seperti : model dan metode pembelajaran contohnya pembelajaran individual, kooperatif, kompetitif, metode diskusi, eksperimen dan sebagainya.

Lingkungan, seperti: lapangan olah raga, laboratorium IPA, laboratorium bahasa, laboratorium komputer, perpustakaan, ruang keterampilan, kebun sekolah, kantin sekolah, benda-benda yang tidak terpakai, dan lingkungan sekolah lainnya.

c. Pengelolaan dan Pengembangan Sumber Belajar di Sekolah

Sumber belajar dapat berfungsi sebagai saluran komunikasi dan mampu berinteraksi dengan peserta belajar dalam suatu kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Oleh sebab itu sumber belajar harus dikembangkan dan dirancang secara sistematis berdasarkan kebutuhan kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan dan juga berdasarkan pada karakteristik para peserta didik yang akan mengikuti kegiatan pembelajaran tersebut.

Sumber belajar selama ini dianggap sebagai suatu barang yang sulit dan membutuhkan biaya yang tinggi untuk mendapatkannya. Hal ini disebabkan karena guru ataupun siswa kurang memiliki kreativitas dan inovasi dalam memanfaatkan bahan-bahan atau benda-benda yang ada sekitar lingkungan sekolah. Pemanfaatan sumber belajar di sekolah baik yang dirancang maupun yang tinggal dimanfaatkan belum berjalan secara baik dan optimal. Banyak guru yang masih menggunakan paradigma lama, yaitu mengajar dengan hanya bersumber pada buku pelajaran yang ada, dan tidak memiliki motivasi, kreasi dan inovasi untuk memanfaatkan dan menciptakan sumber belajar lainnya yang dapat membantu diri guru tersebut dan siswanya dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.

Dengan berbekal kreativitas, guru seharusnya dapat membuat dan menyediakan sumber belajar yang sederhana dan murah. Misalnya bagaimana guru dan siswa dapat memanfaatkan benda-benda yang ada lingkungan kelas, sekolah dan masyarakat ataupun bahan-bahan bekas. Bahan bekas, yang banyak berserakan di sekolah dan rumah, seperti kertas, mainan, kotak pembungkus, bekas kemasan sering luput dari perhatian kita. Dengan sentuhan kreativitas, bahan-bahan bekas yang biasanya dibuang secara percuma dapat dimodifikasi dan didaur-ulang menjadi sumber belajar yang sangat berharga.

Selain dari itu lingkungan juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar. Peserta didik tidak perlu harus pergi jauh dengan biaya yang mahal, lingkungan yang berdekatan dengan sekolah dan rumah pun dapat dioptimalkan menjadi sumber belajar yang sangat bernilai bagi kepentingan belajar siswa. Tidak sedikit sekolah-sekolah yang memiliki halaman atau pekarangan yang cukup luas, namun keberadaannya seringkali ditelantarkan dan tidak terurus. Jika saja lahan-lahan tersebut dioptimalkan tidak mustahil akan menjadi sumber belajar yang sangat berharga.

Sumber belajar lainnya yang seharusnya dikelola dengan baik adalah perpustakaan. Tidak sedikit perpustakaan yang ada di sekolah-sekolah belum dikelola dengan baik sebagai pusat sumber belajar, perpustakaan hanya menjadi sarana atau tempat penyimpanan buku saja. Siswa tidak termotivasi memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber belajar. Perpustakaan mestinya dapat menjadi pusat sumber dan penyimpanan informasi dan pengetahuan baik berupa bahan cetak (buku/tulisan), elektronik dan audio visual ataupun dalam bentuk yang lain, sehingga perpustakaan dapat berfungsi sebagai sumber belajar bagi semua peserta belajar, para profesional, para peneliti dan bagi siapapun yang memerlukan informasi dan pengetahuan.

Selain berfungsi sebagai tempat untuk mendapatkan informasi, perpustakaan juga berfungsi untuk kegiatan pendidikan, pembelajaran dan penelitian, maka distribusi informasi sebagai koleksi perpustakaan perlu diarahkan pada kebutuhan belajar peserta belajar. Konsep Pusat Sumber Belajar mengubah organisasi informasi dan pengelolalaan perpustakaan dari lingkungan hanya bahan cetak menjadi lingkungan bahan cetak dengan bahan non cetak termasuk diantaranya semua teknologi yang lebih baru seperti bahan rekaman yang dibaca dengan mesin, cd-rom, video disc, bahkan juga komputer terhubung dengan jaringan internet.

Bagi sekolah yang memiliki ruang keterampilan dan laboratorium baik bahasa, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sudah seharusnya dikelola dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai ada barang-barang rusak hanya karena lama disimpan, bukan rusak karena dipakai. Selain itu banyak alat-alat peraga atau media pembelajaran yang jarang dimanfaatkan atau guru tidak mau menggunakannya. Padahal semua itu seharusnya dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kegiatan pembelajaran.

Pengelolaan dan pengembangan sumber belajar ini sebetulnya tidak semata-mata menjadi tugas dan tanggungjawab guru semata, tetapi juga terkaitan dengan manajemen kepala sekolah yang juga lebih banyak dicurahkan kepada peningktan kualitas pembelajaran. Dengan adanya keinginan guru untuk mengelola dan mengembangkan sumber-sumber belajar dengan didukung oleh manajemen sekolah yang kondusif diharapkan akan dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber-sumber belajar yang ada di sekolah.

3. Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan

Sumber-sumber belajar yang terdapat di sekolah adalah sebagai berikut.

Pesan seperti: kurikulum, pembinaan pada upacara bendera dan sebagainya. Kemudian orang, seperti: guru mata pelajaran, guru bimbingan dan konseling, petugas tata usaha, penjaga kantin sekolah dan sebagainya. Selanjutnya bahan, seperti : buku, modul, majalah, koran, slide, film, OHT (Overhead Tranparancy), media grafis, CD (Compact Disk), peta, atlas, globe, matematika kit, bahasa kit, dan sebagainya. Selain itu berupa alat, seperti : OHP (Overhead Projector), slide projector, film projector, LCD (Liquid Crystal Display), radio, televisi, tape recorder, kaset, dan sebagainya. Sedangkan teknik, seperti : model dan metode pembelajaran contohnya pembelajaran individual, kooperatif, kompetitif, metode diskusi, eksperimen dan sebagainya. Sumber belajar berupa lingkungan, seperti: lapangan olah raga, laboratorium IPA, laboratorium bahasa, laboratorium komputer, perpustakaan, ruang keterampilan, kebun sekolah, kantin sekolah, benda-benda yang tidak terpakai, dan lingkungan sekolah lainnya.

Saran

Guru dan kepala sekolah diharapkan mempunyai komitmen untuk mengembangkan sumber-sumber belajar yang ada di sekolah dengan cara mengelola dan mengembangkannya seoptimal mungkin sehingga sumber belajar tersebut dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran agar tercapainya pembelajaran yang berkualitas guna tercapainya tujuan pembelajaran dan tujuan pendidikan yang diinginkan.

4. Daftar Pustaka

Mudhoffir. 1986. Prinsip-Prinsip Pengelolaan Sumber Belajar. Bandung: CV. Remadja Karya.

Rahadi, Aristo. 2003. Media Pembelajaran. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Sadiman, Arif Sukadi, dan kawan-kawan. 1989. Beberapa Aspek Pengembangan Sumber Belajar. Jakarta: PT. Mediyatama Sarana Perkasa.

Sanjaya, Wina. 2008. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kecana Prenada Media Group.

Tugas Kuliah (harmadi-derasid.blogspot.com)

PENGEMBANGAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH

SEBAGAI SUMBER BELAJAR

Oleh Harmadi

1. Pendahuluan

a. Latar Belakang

Keberhasilan dalam suatu pembelajaran tidak hanya terletak pada guru dan siswa saja melainkan faktor-faktor lain yang mendukung. Faktor-faktor tersebut seperti sarana dan prasarana. Salah satu prasarana yang dapat mendukung pembelajaran itu ialah perpustakaan. Perpustakaan di suatu sekolah merupakan suatu hal yang tidak dapat dianggap mudah, karena dengan adanya perpustakaan inilah siswa dapat memperkaya pengetahuannya, baik yang berhubungan dengan mata pelajaran maupun pengetahuan umum. Keberadaan perpustakaan di suatu sekolah sangat penting, sehingga menjadi suatu keharusan di setiap sekolah memiliki satu perpustakaan yang dikelola dengan baik.

Pengelolaan perpustakaan dan pengembangannya perlu menjadi suatu prioritas dalam suatu sekolah, mengingat perpustakaan merupakan sumber belajar yang sangat penting guna menunjang kegiatan pembelajaran. Sementara itu dalam kurikulum tahun 2006 yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menyiratkan perlunya peningkatan peran perpustakaan sekolah sebagai penunjang kegiatan belajar siswa dan guru. Kurikulum tingkat satuan pendidikan menuntut guru untuk lebih aktif dalam mengembangkan pembelajaran khususnya dalam mengembangkan indikator pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Untuk itu pada setiap satuan unit sekolah perlu didukung adanya perpustakaan yang mampu berfungsi dengan baik.

Dalam keseharian menurut pengamatan penulis di beberapa sekolah yang penulis pernah lihat termasuk perpustakaan tempat penulis bertugas, beberapa perpustakaan sekolah belum dikelola secara maksimal dan belum ada pengembangannya. Persoalan yang nampak mulai dari petugas, ketersediaan koleksi, pengaturan ruangan, dan sebagainya.

Sehubungan dengan uraian di atas maka perlu dilakukan pengelolaan atau pengembangan perpustakaan yang dilakukan oleh sekolah sehingga perpustakaan tersebut dapat menjadi sumber belajar yang dapat bermanfaat bagi siswa dan guru dalam kegiatan pembelajaran.

b. Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka yang menjadi masalah adalah bagaimana cara mengembangkan perpustakaan sekolah sehingga dapat menjadi sumber belajar bagi siswa dan guru dalam kegiatan pembelajaran ?

c. Tujuan dan Manfaat

Tujuan dari tulisan ini adalah ingin menguraikan cara mengembangkan perpustakaan agar dapat menjadi sumber belajar bagi siswa dan guru dalam kegiatan pembelajaran.

Manfaat tulisan ini adalah sumbangan pemikiran bagi dunia pendidikan tentang perpustakaan sebagai sumber belajar, selain itu pula untuk penambah wawasan bagi diri penulis dan pembaca sekalian tentang pentingnya pengelolaan dan pengembangan perpustakaan sebagai salah satu sumber belajar di sekolah.

2. Pembahasan

a. Pengertian dan Manfaat Perpustakaan Sebagai Sumber Belajar

Secara sederhana pengertian perpustakaan adalah salah satu bentuk organisasi

sumber belajar yang menghimpun berbagai informasi dalam bentuk buku dan bukan buku yang dapat dimanfaatkan oleh pemakai (guru, siswa, dan masyarakat) dalam upaya mengembangkan kemampuan dan kecakapannya. Menurut Wiryokusumo dalam Darmono (2004) dengan memanfaatkan perpustakaan dapat diperoleh data atau informasi untuk memecahkan berbagai masalah, sumber untuk menentukan kebijakan tertentu, serta berbagai hal yang sangat penting untuk keperluan belajar.

Jika ditilik dari pengertian tersebut, hakikat perpustakaan adalah pusat sumber belajar

dan sumber informasi bagi pemakainya. Perpustakaan dapat pula diartikan sebagai

tempat kumpulan buku-buku atau tempat buku dihimpun dan diorganisasikan sebagai

media belajar siswa. Wafford dalam Darmono (2004) menterjemahkan perpustakaan

sebagai salah satu organisasi sumber belajar yang menyimpan, mengelola, dan memberikan layanan bahan pustaka baik buku maupun non buku kepada masyarakat tertentu maupun masyarakat umum. Lebih luas lagi pengertian perpustakaan adalah salah satu unit kerja yang berupa tempat untuk mengumpulkan, menyimpan, mengelola, dan mengatur koleksi bahan pustaka secara sistematis untuk digunakan oleh pemakai sebagai sumber informasi sekaligus sebagai sarana belajar yang menyenangkan.

Jika dikaitkan dengan proses belajar mengajar di sekolah, perpustakaan sekolah

memberikan sumbangan yang sangat berharga dalam upaya meningkatkan aktivitas siswa serta meningkatkan kualitas pendidikan dan pengajaran.

Melalui penyediaan perpustakaan, siswa dapat berinteraksi dan terlibat langsung baik

secara fisik maupun mental dalam proses belajar. Perpustakaan sekolah merupakan bagian integral dari program sekolah secara keseluruhan, dimana bersama-sama dengan komponen pendidikan lainnya turut menentukan keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran. Melalui perpustakaan siswa dapat mendidik dirinya secara berkesinambungan.

Secara umum perpustakaan sekolah sangat diperlukan keberadaanya dengan pertimbangan bahwa:

a. perpustakaan merupakan sumber belajar,

b. merupakan salah satu komponen sistem instruksional,

c. sumber untuk menunjang kualitas pendidikan dan pengajaran,

d. sebagai laboratorium belajar yang memungkinkan siswa dapat mempertajam dan

memperluas kemampuan untuk membaca, menulis, berpikir dan berkomunikasi.

Jika dikaitkan dengan pengertian sumber belajar, maka perpustakaan merupakan

salah satu dari berbagai macam sumber belajar yang tersedia di lingkungan sekolah.

Mengacu pada definisi sumber belajar yang diberikan oleh Association for Education

Communication Technology (AECT) maka pengertian sumber belajar adalah berbagai

sumber baik itu berupa data, orang atau wujud tertentu yang dapat digunakan oleh siswa dalam belajar baik yang digunbakan secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah siswa dalam mencapai tujuan belajarnya.

Ditinjau dari segi pendayagunaan, AECT membedakan sumber belajar menjadi dua

macam yaitu:

a. sumber belajar yang dirancang atau sengaja dibuat untuk digunakan dalam kegiatan

belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Sumber belajar yang dirancang

tersebut dapat berupa buku teks, buku paket, slide, film, video dan sebagainya yang

memang dirancang untuk membantu mencapai tujuan pembelajaran tertentu,

b. sumber belajar yang tidak dirancang atau tidak sengaja dibuat untuk membantu

mencapai tujuan pembelajaran. Jenis ini banyak terdapat disekeliling kita dan jika suatu saat kita membutuhkan, maka kita tinggal memanfaatkannya. Contoh sumber belajar jenis ini adalah tokoh masyarakat, toko, pasar, museum (Sadiman dan kawan-kawan, 1989:141)

Mengacu pada definisi AECT tentang sumber belajar, maka sumber belajar jenis

pertama yaitu sumber belajar yang sengaja dibuat untuk membantu pencapaian tujuan

belajar perlu disimpan untuk didayagunakan secara maksimal. Penyimpanan berbagai

sumber belajar tadi ditempatkan dan diorganisasikan di perpustakaan. Dengan demikian maka perpustakaan merupakan salah satu sarana yang dibutuhkan di lingkungan berbagai lembaga, termasuk sekolah guna membantu tercapainya setiap upaya pembelajaran.

b. Beberapa Permasalahan Umum Perpustakaan Sekolah

Sebenarnya yang paling hakiki dari perpustakaan adalah bagaimana menciptakan

kondisi di sekolah melalui perpustakaan agar dapat membantu warga sekolah dalam proses belajar mengajar. Lebih jauh diharapkan perpustakaan sekolah dapat menciptakan atmosfir sekolah yang kondusif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Melalui perpustakaan sekolah dapat mendorong tumbuhnya daya kreasi dan imajinasi anak melalui berbagai bacaan yang tersedia di perpustakaan. Untuk bisa menciptakan kondisi tersebut kelembagaaan perpustakaan sekolah haruslah dapat mendukung peran dan tugas yang harus

diembanggnya.

Secara umum kelembagaan perpustakaan sekolah masih mengalami kendala yang

disebabkan berbagai faktor sebagai berikut:

1. Belum dipikirkannya posisi pepustakaan sekolah sebagai unit yang strategis dalam

menunjang proses pembelajaran di sekolah.

2. Minimnya dana operasional pengelolaan dan pembinaan perpustakaan sekolah,

3. Terbatasnya sumber daya manusia, dan bahkan amat terbatasnya sumber daya

manusia yang mampu mengelola perpustakaan serta mengembangkannnya sebagai

sumber belajara bagi siswa dan guru,

4. Lemahnya koleksi perpustakaan sekolah. Pada umumnya perpustakaan sekolah

Terdiri dari buku pelajaran yang merupakan droping dari pemerintah,

5. Minat baca siswa yang masih belum menggembirakan, walaupun pemerintah telah

mencanangkan berbagai program seperti bulan buku nasional, hari aksara, wakaf

buku dan sebagainya,

6. Kepedulian penentu kebijakan terhadap perpustakaan masih kurang, bahkan

keberadaan perpustakaan hanya sebagai pelengkap,

7. Masih kurangnya sarana dan prasarana yang diperlukan termasuk dalam hal ini

Adalah ruang perpustakaan sekolah.

8. Belum adanya jam perpustakaan sekolah yang terintegrasi dengan kurikulum,

9. Kegiatan belajar mengajar belum memanfaatkan perpustakaan secara maksimal

dalam arti guru “tidak terlalu sering” memberikan tugas-tugas kepada siswa yang

terkait dengan pemanfaatan perpustakaan sekolah.

Untuk mengatasi masalah tersebut perpustakaan memang perlu mendapat perhatian.

Sekolah perlu melakukan berbagai upaya agar perpustakaan dapat berjalan paling tidak sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah. Standar yang telah dikeluarkan oleh epartemen Pendidikan Nasional memang perlu dijadikan acuan. Namun itu semua perlu disesuaikan dengan kondisi sekolah.

Ada beberapa cara mengatasi atau boleh dikatakan menyiasati dari kondisi yang

kurang mendukung. Misalnya masalah ruangan perpustakaan dan tenaga pengelola. Dengan segala keterbatasanya, banyak sekolah yang telah memiliki fasilitas ruang perpustakaan, namun juga banyak sekolah yang belum memiliki ruangan perpustakaan. Untuk mengatasi masalah belum adanya ruang perpustakaan, koleksi di pindahkan ke kelas yang mencerminkan kebutuhan kelas dan dibawah pengawasan wali kelas. Pada kondisi ini diperlukan kedisiplinan administrasi agar buku dapat dikontrol setiap saat. Siapa yang meminjam dan kapan harus kembali. Konsep perpustakaan kelas sudah diterapkan di beberapa sekolah yang tidak memiliki ruangan perpustakaan.

Masalah dana misalnya, dapat diatasi dengan mengadakan kerjasama dengan

Komite Sekolah. Kita perlu mengadakan pendekatan dengan Komite Sekolah dan menyampaikan program-program sekolah termasuk didalamnya adalah program pengembangan perpustakaan. Perpustakaan perlu mendapat dukungan dana tetap dari Komite Sekolah sehingga koleksinya dapat ditambah setiap periode tertentu. Tanpa ada penyegaran koleksi perpustakaan menjadi kering dan

kurang menarik minat siswa untuk datang dan memanfaatkannya.

Beberapa pakar bidang perpustakaan mengatakan mendirikan perpustaakaan itu

mudah, tetapi untuk menjaga kelangsungnya diperlukan kerja serius dengan program yang jelas dan terarah. Karena dalam pelaksanannya banyak tantangan dan itu harus diatasi agar perpustakaan terus dapat berfungsi sebagai sumber belajar.

c. Pengembangan Perpustakaan Sekolah

Melihat fungsi perpustakaan yang demikian penting dan melihat kenyataan bahwa

pengelolaan perpustakaan sekolah belum berjalan dengan baik, untuk itu diperlukan srategi pengembangan perpustakaan sekolah dengan baik. Tentunya pengembangan perpustakaan sekolah harus berangkat dari inisiatif sekolah itu sendiri.

Adapun pengembangan perpustakaan sekolah meliputi hal-hal sebagai berikut:

1. Status organisasi, perlu ada pemantapam status organisasi atau kelembagaan

perpustakaan sekolah,

2. Pembiayaan, perlu adanya anggaran yang memadahi yang dapat digunakan untuk

operasional perpustakaan sekolah,

3. Gedung dan atau ruang perpustakaan, perlu ada ruangan yang representatif

Sehingga keberadaan perpustakaan sekolah mampu menunjang kegiatan

pembelajaran di sekolah.

4. Koleksi bahan pustaka, koleksi bahan pustaka perlu disesuaikan dengan kebutuhan

minimun sekolah yang mengacu pada kurikulum dan kegiatan ekstra kurikuler di

sekolah.

5. Peralatan dan perlengkapan, perlu disesuiakan dengan kebutuhan perpustakaan

sekolah sehingga perpustakaan dapat berjalan dengan baik

6. Tenaga perpustakaan, mempunyai kualifikasi yang memadahi untuk pengelolaan

perpustakaan sekolah.

7. Layanan perpustakaan, disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Jika mungkin ada

layanan diluar jam-jam belajar siswa, sehingga siswa dapat memanfaaatkan

perpustakaan dengan baik.

8. Promosi, erlu dilakukan dengan berbagai cara agar perpustakaan menarik bagi

siswa.

d. Peluang Pengembangan Perpustakaan Sekolah

Dari berbagai jenis perpustakaan memang perpustakaan sekolah paling banyak

mendapat sorotan, karena dinilai oleh banyak pihak masih perlu mendapat perhatian.

Sebenarnya peluang untuk lebih memberdayakan perpustakaan telah terbuka.

Beberapa kondisi yang saat ini dapat mendukung pengembangan perpustakaan sekolah telah ada seperti:

1. Adanya UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang

merupakan dasar pijakan kita dan memungkinkan semua lembaga pendidikan

formal didukung oleh sarana dan prasarana (termasuk perpustakaan),

2. Adanya Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional

Pendidikan.

3. Pemberlakuan kurikulum Tahun 2006 (KTSP) yang menuntut guru untuk

mengembangkan indikator pembelajaran sesuai dengan kebutuhan pembelajaran.

Untuk iu sekolah perlu didukung dengan perpustakaan secara memadai.

4. Adanya metode pengajaran yang melibatkan siswa secara aktif. Dalam metode ini

siswa dituntut untuk mengembangkan, dan memperdalam sendiri materi yang telah

disampaikan oleh guru. Dalam kondisi ini maka peran perpustakaan sangat besar

untuk membantu siswa dalam memperkaya kasanah pengetahuannya,

5. Adanya kebijakan permerintah untuk menggalakkan minat baca dengan mengambil

even-even tertentu seperti tanggal 2 Mei sebagai hari Pendidikan Nasional dan

sekaligus sebagai even bulan buku, tanggal 14 September sebagai hari Aksara

Internasional, momentum ini sekaligus dimanfaatkan sebagai bulan gemar

Membaca dan hari kunjung perpustakaan, 28 Oktober sebagai hari Sumpah Pemuda

dan sekaligus bulan bahasa. Kegiatan tersebut secara langsung maupun tidak l

langsung terkait dengan perpustakaan, momen ini sangat baik untuk kegiatan

promosi dan pemasyarakatan perpustakaan serta pengembangan minat baca siswa,

6. Kebijakan pemerintah/pemerintah daerah untuk memberikan subsidi buku baik

buku pelajaran maupun buku bacaan kepada setiap sekolah,

7. Tumbuhnya berbagai partisipasi masyarakat yang berkaitan dengan minat baca,

perbukuan, dan perpustakaan, seperti Gerakan Waqaf Buku, Kelompok Masyarakat

Pecinta Buku (KMPB), Klub Perpustakaan, dan Kelompok Pecinta Bacaan Anak.

Jika perpustakaan sekolah akan difungsikan sebagai penunjang proses belajar siswa,

maka perlu ada upaya untuk lebih mendayagunakan perpustakaan tersebut. Berikut ini

beberapa cara untuk lebih memberdayakan keberadaan perpustakaan di lingkungan

sekolah:

1. perlu upaya untuk menciptakan “penguatan kelembagaan” terhadap perpustakaan

sekolah,

2. perlunya diciptakan pengajaran yang terkait dengan pemanfaatan fasilitas yang

tersedia di perpustakaan,

3. perlu upaya melibatkan guru dalam pemilihan koleksi perpustakaan yang akan

dibeli, sehingga guru tahu koleksi yang demiliki perpustakaan,

4. promosi dan pemasyarakatan perpustakaan dengan mengambil even-even khusus

seperti pada hari peringatan nasional,

5. perlu diupayakan adanya jam belajar di perpustakaan, sehingga siswa terbiasa

memanfaatkan perpustakaan,

6. perlunya pemberian rangsangan kepada siswa agar termotivasi untuk memanfaatkan

perpustakaan, misalnya penghargaan terhadap siswa yang meminjam buku paling

banyak dalam kurun waktu tertentu.

e. Perpustakaan Sekolah Yang Ideal

Perpustakaan sekolah yang baik memang bersifat relatif, namun demikian bukan

berarti kriteria tersebut tidak bisa dirumuskan sama sekali. Sifat relatif ini disebabkan oleh

kondisi dari sekolah yang sangat beragam. Ada sekolah yang mempunyai sarana yang

lengkap sedangkan pada sisi lain masih ada sekolah yang sarana pendukungnya kurang

lengkap.

Berikut ini beberapa kriteria dari "perpustakaan sekolah yang ideal" yang dapat

berfungsi sebagai sumber belajar siswa secara memadai.

1. adanya status kelembagaan yang kuat dari perpustakaan,

2. struktur oraganisasi perpustakaan jelas dan berjalan dengan baik,

3. memiliki ruangan yang memadai sesuai dengan jumlah siswa, bersih, dan

penyinaranya cukup,

4. memiliki tempat baca yang memadai,

5. miliki perabot perpustakaan secara memadai,

6. partisipasi pemakainya (siswa dan guru) baik dan aktif,

7. jenis koleksinya mencerminkan komposisi yang baik antara buku teks dengan buku

fiksi, yaitu 40% untuk buku teks, 30% buku-buku pengayaan, dan 30% buku fiksi

serta judul buku yang dimiliki bervariasi,

8. koleksi yang dimiliki sesuai dengan kebutuhan kurikulum sekolah,

9. memiliki tenaga pengelola dengan kompetensi yang memadai,

10. pengorganisasian koleksinya teratur,

11. didukung dengan teknologi informasi dan komunkasi

12. administrasi perpustakaanya tertib yang meliputi administrasi keanggotaan,

administrasi inventaris buku dan perabot, peminjaman, penyusutan, penambahan

buku, statistik peminjaman,

13. memiliki sarana penelusuran informasi yang baik

14. memiliki peraturan perpustakaan,

15. memiliki program pengembangan secara jelas dan terarah,

16. memiliki program keberaksaraan informasi (literasi infomasi)

17. memiliki program pengembangan minat membaca dikalangan siswa,

18. memiliki program mitra perpustakaan,

19. melakukan kegiatan promosi dan pemasyarakatan perpustakaan,

20. kegiatan perpustakaan terintegrasi dengan kurikulum dan kegiatan belajar,

21. memiliki anggaran perpustakaan secara tetap,

22. adanya kerjasama dengan sekolah lain,

23. pelayanannya menyenangkan,

24. ada jam perpustakaan sekolah yang terintegrasi dalam kurikulum..

Parameter di atas tentunya tidak bisa diterapkan disemua sekolah, karena masing-masing sekolah kondisinya tidak sama. Dengan parameter tersebut pihak sekolah dapat mengembangkan perpustakaan sekolah secara ideal.

f. Pengembangan Kebiasaan Membaca melalui Perpustakaan Sekolah

Untuk mengembangkan perpustakaan sebagai sumber belajar perlu diciptakaan

atmosfir sekolah yang menunjang. Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah adanya pengembangan program kebiasaan membaca untuk menumbuhkan minat membaca siswa.

Diharapkan penyediaan sarana untuk peningkatan kegemaran membaca siswa akan

berpengaruh positif terhadap peningkatan keterampilan membaca. Keterampilan membaca dan dan kegemaran membaca memiliki hubungan yang saling mendukung. Upaya-upaya peningkatan minta membaca perlu dilakukan baik oleh guru dengan tujuan agar siswa mempunyai kemauan untuk melakukan kegiatan membaca sesering mungkin di luar kelas.

Pada lingkungan sekolah perpustakaan mempunyai peran yang sangat strategis dalam hal penyediaan fasilitas untuk meningktkan minat baca siswa. Minat dan kegemaran membaca tidak dengan sendirinya dimiliki oleh seseorang, termasuk anak-anak dalam usia sekolah. Minat baca dapat tumbuh dan berkembang dengan cara dibentuk. Dalam kaitan ini dapat kita simak teori rangsangan dan dorongan. Dorongan adalah daya motivasional yang mendorong lahirnya perilaku yang mengarah pada pencapaian suatu tujuan. Dorongan yang dimaksud adalah motivasi tidak hanya untuk

perilaku tertentu saja, melainkan perilaku apa saja yang berkaitan dengan kebutuhan dasar yang diinginkan seseorang. Dorongan-dorongan tersebut dapat muncul dari dalam diri orang tersebut atau dapat dirangsang dari luar.

Memperhatikan asal dari dorongan untuk berperilaku, dapat diprediksikan bahwa

minat dan kegemaran membaca itu timbul dalam diri anak maupun dari orang-orang lain di lingkungan sekitar. Oleh sebab itu upaya untuk mengangkat program peningkatan minat dan kegemaran membaca perlu melibatkan unsur-unsur berikut ini:

a. anak didik pada semua jenjang SD, SLTP, SLTA,

b. guru sekolah, kepala sekolah, pengawas sekolah,

c. sekolah dengan berbagai program kegiatan yang dapat menunjang

pengkondisian tumbuhnya minat dan kegemaran membaca,

d. orang tua di rumah,

e. lingkungan masyarakat di luar sekolah dan rumah,

f. lembaga-lembaga masyarakat yang berminat terhadap pengembangan minat dan

kegemaran membaca, misalnya dengan mendirikan pondok baca,

g. pemerintah melalui berbagai program yang dikembangkan, seperti adanya

kegiatan bulan buku nasional pada setiap bulan Mei, hari Aksara Internasional

pada setiap bulan September, hari kunjung perpustakaan yang jatuh pada bulan

September, kegiatan tersebut bisa dikaitkan dengan pembinaan minat dan

kegemaran membaca.

Motivasi yang berasal dari anak merupakan dorongan yang bersifat internal,

sedangkan dorongan dari pihak lainnya bersifat eksternal. Dengan kata lain bila akan

merumuskan strategi peningkatan minat dan kegemaran membaca anak didik maka dua model strategi tersebut patut dipertimbangkan, yaitu model strategi yang didasarkan pada motivasi internal dan model yang digerakkan oleh motivasi eksternal.

Sekurang-kurangnya terdapat tiga dimensi pengembangan minat dan kegemaran

membaca yang perlu dipertimbangkan yaitu:

1. Dimensi edukatif pedagogik

Dimensi ini menekankan tindak-tindak motivasional apa yang dilakukan para guru di

kelas, untuk semua bidang studi yang akhirnya para siswa tertarik dan memiliki minat

terhadap kegiatan membaca untuk tujuan apa saja. Paradigma pengajaran saat ini adalah

berpusat pada anak didik, maka pengembangan minat baca hendaknya dimulai dari

aktivitas belajar sehari-hari di kelas.

2. Dimensi sosio kultural

Dimensi ini mengandung makna bahwa minat baca siswa dapat digalakkan berdasarkan

hubungan-hubungan sosial dan kebiasaan anak didik sebagai anggota masyarakat.

Misalnya dalam masyarakat paternalistik, orang tua atau pemimpin selalu menjadi

panutan. Dalam hal ini jika yang dijadikan panutan memiliki minat baca maka dapat

diprediksi bahwa anak juga dengan sendirinya terbawa situasi tersebut, artinya anak

akan memiliki sikap dan kegemaran membaca.

3. Dimensi perkembangan psikologis

Anak usia sekolah pada jenjang SD/SMP/SMU merupakan usia anak praremaja. Tahap pertengahan masa anak-anak didominasi dengan fungsi pengamatan, fungsi rasa ingin tahu yang cukup kuat. Pada masa ini perlu dipertimbangkan secara sungguh-sungguh dalam upaya memotivasi kegemaran membaca siswa. Pengamatan membaca yang jitu biasanya melalui ilustrasi gambar. Penalaran intelektual mudah dirangsang melalui diskripsi yang dikotomis, argumentasi yang menggugah.

Peran perpustakaan sangat sentral dalam membina dan menumbuhkan kesadaran

membaca. Kegiatan membaca tidak bisa dilepaskan dari keberadaan dan tersedianya bahan bacaan yang memadai baik dalam segi jumlah maupun dalam kualitas bacaan. Pada aspek lain minat baca senantiasa perlu dikembangkan. Di lingkungan anak usia sekolah usaha pengembangan minat baca dapat dilakukan dengan prinsip jenjang dan pikat. Prinsip pertama perlu adanya usaha untuk memikat pengguna untuk mulai menyenangi kegiatan membaca. Prinsip kedua perlu ada upaya untuk mengkondisikan perlunya penyediaan meteri bacaan yang sesuai dengan perkembangan anak yang dapat memperkuat minat baca anak, yang senantiasa terus mendorong anak untuk maju menuju pada kegiatan membaca yang berkualitas.

Beberapa usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kegemaran membaca

siswa melalui perpustakaan adalah:

a. Menyediakan bahan bacaan yang diminati siswa, yang sesuai dengan keragaman tingkat perkembangan anak.

b. Menjadikan perpustakaan sekolah sebagai tempat yang menyenangkan bagi siswa

melalui penataan yang bagus, dengan pelayanan yang ramah,

c. Membuat promosi dan kegiatan pengembangan minat dan kegemaran membaca dengan memanfaatkan perpustakaan sekolah,

d. Memberikan tugas tambahan kepada siswa di luar kelas. Pemberian tugas tambahan ini tentunya berkaitan dengan terbatasnya jam pelajaran di dalam kelas. Oleh sebab itu guru sebaiknya senantiasa mendorong siswa untuk lebih banyak membaca di luar jam-jam sekolah (di rumah). Tugas membaca dapat dipantau dengan membuat laporan, resensi buku, atau membuat laporan garis besar isi buku yang telah dibacanya (sinopsis) dengan memanfaatkan bacaan yang tersedia di perpustakaan,

e. Tersedianya waktu bagi siswa untuk berkunjung ke perpustakaan baik secara

perseorangan maupun klasikal yang sekaligus merupakan jam belajar di perpustakaan.

f. Mengintegrasikan perpustakaan dalam kegiatan belajar mengajar.

g. Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan

Dari uraian yang serba ringkas tersebut dapat ditarik benang merah bahwa dalam

lingkungan sekolah, kegiatan belajar perlu didukung oleh sarana yang memadai, salah

satunya adalah perpustakaan sekolah yang berfungsi sebagai sumber belajar siswa. Sebagai sumber belajar perpustakaan sekolah mengemban beberapa fungsi yang amat vital. Fungsi perpustakaan tersebut akan dapat berjalan dengan baik apabila didukung oleh beberapa hal seperti pengembangan koleksi yang sesuai, organisasi dan penguatan kelembagaan perpustakaan, pelayanan, penyediaan sarana dan prasarana, serta program promosi dan pengembangan perpustakaan.

Keberadaan perpustakaan sekolah perlu ditangani secara baik dan memadai. Untuk

itu diperlukan kemauan dari berbagai pihak untuk mengembangkannya yaitu penentu

kebijakan pada tingkat departemen, tingkat daerah, tingkat sekolah (kepala sekolah, guru, dan pengelola perpustakaan).

Saran

Sebagai saran dalam tulisan ini adalah agar pihak sekolah dapat mendayagunakan perpustakaan semaksimal mungkin sehingga perpustakaan tersebut dapat menjadi salah satu sumber belajar di lingkungan sekolah yang berguna bagi guru dan siswa dalam kegiatan pembelajaran.

h. Daftar Pustaka

Darmono, 2004. Manajemen dan tata kerja perpustakaan sekolah. Cetakan ke-2.

Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia

Mudhoffir. 1986. Prinsip-Prinsip Pengelolaan Pusat Sumber Belajar. Bandung:

Remadja Karya CV.

Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 tahun 2005

tentang Standar Nasional Pendidikan.

Republik Indonesia.Undang-undang R.I. No. 20 tahun 2003 tentang Sistem

Pendidikan Nasional.

Sadiman, Arif Sukadi, Sudjarwo dan Radikun. 1989. Beberapa Aspek Pengembangan

Sumber Belajar. Jakarta: PT. Mediyatama Sarana Perkasa.






Powered By Blogger